Baladewa
Awatara Wisnu
Dewanagari: बलराम
Ejaan Sanskerta: Balarāma
Nama lain: Balarama; Balabhadra;
Halayudha; dan lain-lain
Golongan: manusia awatara
Senjata: Bajak dan Gada
Pasangan: Rewati
Prabu Baladewa dan kekasihnya dalam lukisan versi India, bergaya Rajasthan.
Dalam mitologi Hindu, Baladewa (Sanskerta: बलदोव) atau Balarama
(Sanskerta: बलराम; Balarāma), disebut juga Balabhadra dan Halayudha,
adalah kakak dari Kresna, putera Basudewa dan Dewaki. Dalam filsafat
Waisnawa dan beberapa tradisi pemujaan di India selatan, ia dipuja
sebagai awatara keenam dari Maha Awatara dan termasuk salah satu dari 25
awatara dalam Purana. Menurut filsafat Waisnawa dan beberapa pandangan
umat Hindu, ia merupakan manifestasi dari Sesa, ular suci yang menjadi
ranjang Dewa Wisnu.
Kemunculan Baladewa
Baladewa sebenarnya merupakan Kakak kandung Kresna karena terlahir
sebagai putera Wasudewa dan Dewaki. Namun karena takdirnya untuk tidak
mati di tangan Kamsa, ia dilahirkan oleh Rohini atas peristiwa
pemindahan janin.
Kamsa, Kakak dari Dewaki, takut akan ramalan yang mengatakan bahwa ia
akan terbunuh di tangan putera kedelapan Dewaki. Maka dari itu ia
menjebloskan Dewaki beserta suaminya ke penjara dan membunuh setiap
putera yang dilahirkan oleh Dewaki. Secara berturut-turut, setiap
puteranya yang baru lahir mati di tangan Kamsa. Pada saat Dewaki
mengandung puteranya yang ketujuh, nasib anaknya yang akan dilahirkan
tidak akan sama dengan nasib keenam anaknya terdahulu. Janin yang
dikandungnya secara ajaib berpindah kepada Rohini yang sedang
menginginkan seorang putera. Maka dari itu, Baladewa disebut pula
Sankarsana yang berarti “pemindahan janin”.
Akhirnya, Rohini menyambut Baladewa sebagai puteranya. Pada masa
kecilnya, ia bernama Rama. Namun karena kekuatannya yang menakjubkan, ia
disebut Balarama (Rama yang kuat) atau Baladewa. Baladewa menghabiskan
masa kanak-kanaknya sebagai seorang pengembala sapi bersama Kresna dan
teman-temannya. Ia menikah dengan Reawati, puteri Raiwata dari Anarta.
Baladewa mengajari Bima dan Duryodana menggunakan senjata Gada. Dalam
perang di Kurukshetra, Baladewa bersikap netral. Seperti kerajaan
Widarbha dan Raja Rukmi, ia tidak memihak Pandawa maupun Korawa. Namun,
ketika Bima hendak membunuh Duryodana, ia mengancam akan membunuh Bima.
Hal itu dapat dicegah oleh Kresna dengan menyadarkan kembali Baladewa
bahwa Bima membunuh Duryodana adalah sebuah kewajiban untuk memenuhi
sumpahnya. Selain itu, Kresna mengingatkan Baladewa akan segala prilaku
buruk Duryodana.
Ciri-ciri fisik
Lukisan India modern, yang menggambarkan Baladewa berdiri di dekat sungai Yamuna.
Balarama seringkali digambarkan berkulit putih, khususnya jika
dibandingkan dengan saudaranya, yaitu Kresna, yang dilukiskan berkulit
biru gelap atau bercorak hitam. Senjatanya adalah bajak dan gada. Secara
tradisional, Baladewa memakai pakaian biru dan kalung dari rangkaian
bunga hutan. Rambutnya diikat pada jambul dan ia memakai giwang dan
gelang. Baladewa digambarkan memiliki fisik yang sangat kuat, dan
kenyataannya, bala dalam bahasa Sanskerta berarti “kuat”. Baladewa
merupakan teman kesayangan Kresna yang terkenal.
Baladewa dalam susastra Hindu
Bhagawatapurana
Pada suatu hari, Nanda Maharaja menyuruh Gargamuni, pendeta keluarga,
untuk mengunjungi rumah mereka dalam rangka memberikan nama kepada
Kresna dan Baladewa. Ketika Gargamuni tiba di rumahnya, Nanda Maharaja
menyambutnya dengan ramah dan kemudian menyuruh agar upacara pemberian
nama segera dilaksanakan. Gargamuni memperingatkan Nanda Maharaja bahwa
Kamsa mencari putera Dewaki dan jika upacara dilaksanakan secara mewah
maka akan menarik perhatian Kamsa, dan ia akan mencurigai Kresna sebagai
putera Dewaki. Maka Nanda Maharaja menyuruh Gargamuni untuk
melangsungkan upacara secara rahasia, dan Gargamuni memberi alasan
mengenai pemberian nama Balarama sebagai berikut:“ Karena Balarama,
putera Rohini, mampu menambah pelbagai berkah, namanya Rama, dan karena
kekuatannya yang luar biasa, ia dipanggil Baladewa. Ia mampu menarik
Wangsa Yadu untuk mengikuti perintahnya, maka dari itu namanya
Sankarshana. ”
Mahabharata
Baladewa terkenal sebagai pengajar Duryodana dari Korawa dan Bima
dari Pandawa seni bertarung menggunakan gada. Ketika perang meletus
antara pihak Korawa dan Pandawa, Baladewa memiliki rasa sayang yang sama
terhadap kedua pihak dan memutuskan untuk menjadi pihak netral. Dan
akhirnya ketika Bima (yang lebih kuat) mengalahkan Duryodana (yang lebih
pintar) dengan memberikan pukulan di bawah perutnya dengan gada,
Baladewa mengancam akan membunuh Bima. Hal ini dicegah oleh Kresna yang
mengingatkan Baladewa atas sumpah Bima untuk membunuh Duryodana dengan
menghancurkan paha yang pernah ia singkapkan kepada Dropadi.
Akhir riwayat hidup
Dalam Bhagawatapurana dikisahkan setelah Baladewa ambil bagian dalam
pertempuran yang menyebabkan kehancuran Dinasti Yadu, dan setelah ia
menyaksikan Kresna yang menghilang, ia duduk bermeditasi di bawah pohon
dan meninggalkan dunia dengan mengeluarkan ular putih besar dari
mulutnya, kemudian diangkut oleh ular tersebut, yaitu Sesa.
Tradisi dan pemujaan
Dalam tradisi Waisnawa dan beberapa sekte Hindu di India, Baladewa
dipuja bersama Sri Kresna sebagai kepribadian dari Tuhan yang Maha Esa
dan dalam pemujaan mereka sering disebut “Krishna-Balarama”. Mereka
memiliki hubungan yang dekat dan selalu terlihat bersama-sama. Jika
diibaratkan, Kresna merupakan pencipta sedangkan Baladewa merupakan
potensi kreativitasnya. Baladewa merupakan saudara Kresna, dan
kadang-kadang dilukiskan sebagai adik, kadang-kadang dilukiskan sebagai
kakaknya. Baladewa juga merupakan Laksmana pada kehidupan Wisnu sebelum
menitis pada Kresna, dan pada zaman Kali, beliau menitis sebagai
Nityananda, sahabat Sri Caitanya.
Dalam Bhagawatapurana diceritakan, setelah Baladewa ambil bagian
dalam pertempuran antara wangsa Yadu dan Wresni, dan setelah ia
menyaksikan Kresna mencapai moksa, ia duduk untuk bermeditasi agar mampu
meninggalkan dunia fana lalu mengeluarkan ular putih dari dalam
mulutnya. Setelah itu ia diangkut oleh Sesa dalam wujud ular.
Baladewa dalam Pewayangan Jawa
Prabu Baladewa atau Balarama dalam bentuk wayang kulit versi Jawa.
Dalam pewayangan Jawa, Baladewa adalah saudara Prabu Kresna. Prabu
Baladewa yang waktu mudanya bernama Kakrasana, adalah putra Prabu
Basudewa, raja negara Mandura dengan permaisuri Dewi Mahendra atau
Maekah. Ia lahir kembar bersama adiknya, dan mempunyai adik lain ibu
bernama Dewi Subadra atau Dewi Lara Ireng, puteri Prabu Basudewa dengan
permaisuri Dewi Badrahini. Baladewa juga mempunyai saudara lain ibu
bernama Arya Udawa, putra Prabu Basudewa dengan Ken Sagupi, seorang
swarawati keraton Mandura.
Prabu Baladewa yang mudanya pernah menjadi pendeta di pertapaan
Argasonya bergelar Wasi Jaladara, menikah dengan Dewi Erawati, puteri
Prabu Salya dengan Dewi Setyawati atau Pujawati dari negara Mandaraka.
Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putera bernama Wisata
dan Wimuka.
Baladewa berwatak keras hati, mudah naik darah tapi pemaaf dan arif
bijaksana. Ia sangat mahir mempergunakan gada, sehingga Bima dan
Duryodana berguru kepadanya. Baladewa mempunyai dua pusaka sakti, yaitu
Nangggala dan Alugara, keduanya pemberian Brahma. Ia juga mempunyai
kendaraan gajah bernama Kyai Puspadenta. Dalam banyak hal, Baladewa
adalah lawan daripada Kresna. Kresna berwarna hitam sedangkan Baladewa
berkulit putih.
Pada perang Bharatayuddha sebenarnya prabu Baladewa memihak para
Korawa, tetapi berkat siasat Kresna, beliau tidak ikut namun sebaliknya
bertapa di Grojogan Sewu (Grojogan = Air Terjun, Sewu = Seribu) dengan
tujuan agar apabila terjadi perang Bharatayuddha, Baladewa tidak dapat
mendengarnya karena tertutup suara gemuruh air terjun. Selain itu Kresna
berjanji akan membangunkannya nanti Bharatayuddha terjadi, padahal
keesokan hari setelah ia bertapa di Grojogan Sewu terjadilah perang
Bharatayuddha. Jika Baladewa turut serta, pasti para Pandawa kalah,
karena Baladewa sangatlah sakti.
Baladewa ada yang mengatakan sebgai titisan daripada naga sementara
yang lainya meyakini sebagai titisan Sanghyang Basuki, Dewa keselamatan.
Ia berumur sangat panjang. Setelah selesai perang Bharatayudha,
Baladewa menjadi pamong dan penasehat Prabu Parikesit, raja negara
Hastinapura setelah mangkatnya Prabu Kalimataya atau Prabu Puntadewa. Ia
bergelar Resi Balarama. Ia mati moksa setelah punahnya seluruh Wangsa
Wresni.
Silsilah

============
Baladewa by wayang in Figur Mahabharata
Prabu Baladewa, wayang kulit purwa buatan Kaligesing,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Baladewa adalah anak Prabu Basudewa, raja Mandura dari Ibu yang bernama
Dewi Mahendra. Ia mempunyai saudara kembar yang bernama Kresna. Walaupun
lahir kembar Baladewa dan Kresna adiknya tidak sama. Baladewa berkulit
putih bule, sedangkan Kresna berkulit hitam cemani. Selain kresna,
Baladewa mempunyai adik wanita bernama Bratajaya atau Sumbadra.
Walaupun Baladewa terkenal sebagai raja yang mudah marah, ia jujur,
adil, dan tulus. Ia tidak sungkan-sungkan untuk meminta maaf atas
kesalahannya. Sejak kecil Baladewa dan ke dua adiknya diungsikan dan
disembunyikan di kademangan Widarakandang karena mendapat ancaman mau
dibunuh oleh Kangsadewa. Di kademangan Widarakandang Baladewa dan kedua
adiknya diasuh oleh Demang Antyagopa dan nyai Sagopi.
Di dalam pengungsian, Baladewa remaja
yang bernama Kakrasana berguru kepada seorang resi jelmaan Batara Brama
di pertapaan Argasonya. Setelah selesai berguru Baladewa diberi pusaka
sakti yaitu senjata Nanggala yang berujud angkus, angkusa atau mata
bajak, dan Alugora berujud gada dengan kedua ujung yang runcing. Selain
itu Baladewa juga mendapat aji Jaladara yang dapat terbang dengan
kecepatan tinggi. Maka kemudian Kakrasana mendapat sebutan nama Wasi
Jaladara.
Baladewa beristeri Erawati anak Raja
Salya dari negara Mandaraka dan mempunyai dua anak laki-laki yaitu
Wisata dan Wimuna. Baladewa menjadi raja di Mandura menggantikan ayahnya
Prabu Basudewa
Nama lain dari Baladewa adalah Kakrasana, Karsana, Balarama, Wasi Jaladara, Curiganata.
Pada saat perang Baratayuda berlangsung,
Baladewa justru tidak terlibat sama sekali. Hal ini disebabkan karena
rekayasa Prabu Kresna. Baladewa sengaja diselamatkan oleh Kresna dari
kemungkinan buruk yang bakal menimpanya, yaitu dengan meminta Baladewa
bertapa di Grojogan sewu. Tujuannya agar Baladewa tidak mendengar suara
gemuruh perang, karena tertutup oleh suara air terjun. Baru ketika
perang Baratayuda sudah usai, Baladewa sadar bahwa ia ditipu oleh
adiknya. Baladewa meninggal dalam usia lanjut. Ia sempat menyaksikan
penobatan Prabu Parikesit menjadi raja Hastinapura. Baladewa wafat
menyusul Kresna adiknya yang terlebih dahulu muksa.